Wanita di Mata Islam

oleh Johan Rio Pamungkas

(Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea, Angkatan 2006)

Pembicaraan tentang perempuan (dalam teks ini dikhususkan pada muslimah) merupakan salah satu topik yang menarik di kalangan perempuan maupun lelaki, baik tua maupun muda. Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa:

Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”(Q.S. Ali Imran[3]: 14).

Banyak aspek mengenai perempuan yang didiskusikan. Tak sedikit pula pendapat dari para pakar, filosof, pemikir, dan ulama—sejak dulu hingga kini— mengenai mitra kaum Adam ini. Beragam pendapat tersebut tidak jarang bertolak belakang. Bermula dari yang melecehkan dan meminggirkan, sampai yang memberi peranan besar hingga menyebabkan lelaki berjalan sendiri bagai tidak membutuhkan perempuan, maupun sebaliknya. Sikap semacam ini tentu saja tidak dapat dibenarkan, baik oleh agama maupun akal. Hal ini disebabkan perempuan dan laki-laki saling membutuhkan. Allah SWT berfirman:

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS. At Taubah[9]: 71).

Tak dapat dipungkiri bahwa mengabaikan perempuan berarti mengabaikan setengah dari potensi masyarakat, dan meminggirkan perempuan berarti meminggirkan seluruh manusia. Hal ini disebabkan tak seorang manusia pun¾kecuali Adam As. dan Hawa¾yang tidak lahir melalui rahim seorang perempuan.

Tak dapat disangkal pula bahwa terdapat bias terhadap perempuan, yang dilakukan oleh lelaki dan perempuan lainnya. Bahkan para ulama dan cendekiawan, dari masa lalu hingga masa kini. Bias tersebut mengakibatkan peremehan terhadap perempuan karena menyamakan mereka secara penuh dengan lelaki sehingga menjadikan perempuan menyimpang dari kodratnya. Sebaliknya, tidak memberi hak-hak mereka sebagai manusia yang memiliki kodrat dan kehormatan yang dianugerahkan oleh Allah SWT juga merupakan pembiasan.

Oleh sebab itu, marilah kita lihat perspektif ini dengan jujur sehingga tidak ada pembiasan sama sekali, dengan melihatnya melalui perspektif Islam, sesuai dengan firman Allah SWT:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”( QS.Ali Imran[3]: 1).

Ayat yang luar biasa mulia ini mengisahkan dengan jelas bahwa asal-usul seluruh manusia adalah satu. Seluruh manusia berasal dari satu orang, yaitu nabi Adam As. Dari satu orang ini lalu Allah SWT menciptakan istrinya. Dari sini kita dapat melihat bahwa Islam telah meletakkan permasalahan ini di atas satu prinsip. Wanita dan laki-laki bermula dari asal yang sama dan dari bahan baku yang sama pula.

“Sebagian dari kalian merupakan bagian dari yang lain.”

Prinsip dalam masalah ini adalah persamaan. Persamaan yang dimaksud lebih kepada persamaan kehadiran, persamaan asal, dan persamaan pencipta. Akan tetapi, terdapat pula perbedaan di antara perempuan dan laki-laki, salah satunya adalah masalah kepemimpinan. Allah SWT berfirman:

Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An Nisa[4]:34)

Masalah kepemimpinan ini tercakup dalam peran perempuan dan laki-laki di keluarga dan negara. Namun, kita juga dapat menemukan masalah kepemimpinan ini di dalam keseharian, contohnya pada saat salat berjamaah. Jika masih ada lelaki yang akan salat berjamaah, maka lelaki tersebutlah yang harus menjadi imam salat meskipun terdapat ratusan perempuan yang akan salat berjamaah.

Intinya, tulisan ini bermaksud menyatakan bahwa Islam telah menjadikan wanita setara dengan pria dalam hal asal-usul, keberadaan, dan hak-haknya secara umum, serta mengakui adanya hubungan timbal balik antara wanita dengan pria. Islam juga menetapkan aturan-aturan yang harus dilaksanakan oleh wanita di atas suatu asas yang menjaga kehormatan wanita, mengiringi karakter-karakter khusus yang dianugerahkan Allah SWT kepada kaum wanita. Setelah itu, maka kita akan menemukan perpaduan yang sungguh indah, sebuah afirmasi dari Allah SWT yang dijelaskan dalam ayat berikut.

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”. (QS. Al Ahzab[33]: 35).

Popularity: 10% [?]

Tags:

About admin